Rabu, 25 Januari 2012

SURAT UNTUK DEWI “DEE” LESTARI 2

“Untuk Blog Contest Mizan.com”


Apa kabar Mbak Dee? Bagaimana kabar Keenan? Apa ya yang akan Mbak Dee tulis di novel partikel kali ini?

Ini kali kedua saya menulis surat untuk mbak, dan kali kedua saya posting tulisan lagi di blog saya ini di tahun 2012. Kalau dirunut runut, memang saya belum begitu aktif menulis seperti pada tahun 2008 yang lalu. Kenapa ya mbak?

Mempunyai sebuah blog menjadi tempat di mana saya bisa mengistirahatkan apa yang ada di benak saya, dengan menuliskan sepatah dua patah kata.

Hmm…. Memang pengalaman membaca saya belumlah banyak, dan akhir akhir ini saya bersyukur, dipertemukan kembali dengan apa yang namanya mengamati bagaimana sebuah buku itu bergerak. Hah… buku kok bergerak? Menurut yang diajarkan oleh guru saya, buku bergerak karena apa yang ada di dalamnya yang merupakan ide ide yang dijabarkan oleh penulisnya bergerak mengikuti jalan pikiran penulisnya. Menceritakan bagaimana awal mula sebuah tulisan terbetik di dalam benak hingga menjelma menjadi sebuah tulisan di atas kertas. Dan bagaimana rute yang diambil oleh penulis dalam menyampaikan gagasannya, apakah rute yang diambil lewat satu jalur ataukah berpindah pindah jalur.

Seperti yang pernah disampaikan oleh seorang guru, Ibaratnya bila kita naik sebuah mobil dan merekam rute yang kita lalui dengan sebuah handycam, setiap hari selama setahun, gambar apa yang akan kita dapat? Tentunya gambar jalan yang biasa kita lewati, dengan penunjuk jalan yang sama, baliho yang sama, lampu merah yang sama. Bandingkan bila kita naik mobil dan merekam rute yang berbeda beda, maka gambar yang akan kita dapatkan akan beragam.

Ada pula buku yang bergerak karena menjadi panduan bagi manusia dalam mengambil keputusan dalam hidupnya. Begitu juga dengan menulis, saya ingin bisa menulis dengan beragam tema dan beragam sudut pandang, hingga akhirnya akan memperkaya tulisan dan memaknainya. Bagaimana menurut mbak Dee?

Dari : Badriyatus Solihah

Untuk : Mizan.com

SURAT UNTUK DEWI "DEE"LESTARI

“Untuk Blog Contest Mizan.com”

Halo Mbak Dee

Apa kabar Mbak? Salam kenal. Saya salah satu penggemar lagu lagu RSD (yang ngangenin sekarang) dan pembaca karya Mbak Dee meski belum semuanya.

Membaca karya Mbak Dee membuat saya cemburu, kosakata dan tema begitu beragam, tidak melulu di novel bergenre pop seperti perahu kertas. Dalam novel Supernova, Ksatria, Putri dan Bintang jatuh, begitu banyak istilah science dan bertebaran puisi diselipkan diantara paragraph, kali pertama saya melihat cantiknya perpaduan puisi dan novel.

Sekarang, di mana frekuensi saya menulis diary tidak seperti dulu, saya baru melakukan pemahaman tentang bagaimana seorang penulis menyampaikan idenya, Saya pengen deh… tahu lebih banyak tentang proses kreatif Mbak Dee.. karena novelnya begitu kaya kata tapi mudah di cerna dengan alur yang membuat saya ingin segera menyelesaikan. Mbak Dee mulai nulis kapan? Untuk sampai saat ini saya masih menulis yang seputar hal hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadi saja, bagaimana caranya Mbak? Keluar dari kotak saat menyelesaikan sebuah tulisan?. Juga bagaimana caranya ya kita menulis itu “show not tell”

Analisa Mbak Dee tajam, saat membaca posting Mbak dee di blog yang berjudul Di cekik plastik waktu itu, memang belum begitu berpengaruh untuk saya, istilahnya saya belum begitu tersadar akan pentingnya melakukan aksi go green, akhir 2011, saat saya membaca ulang tulisan itu, bertepatan dengan adanya Green festival di Jakarta, baru saya ngeh apa itu diet plastik, dan saya mulai dari hal kecil, menggunakan plastik sesedikit mungkin pada saat berbelanja di supermarket atau pada saat berbelanja apapun, benar mbak…. Ternyata menyenangkan berpartisipasi melakukan aksi go green meski masih berupa aksi kecil, belakangan pula saya tahu Mbak Dee suka menanam sensievera, hal yang belum saya bisa, karena sensievera di rumah sepertinya kena busuk daun, pada kuning tu Mbak.. kenapa ya mbak?

Tentang perahu kertas, dari referensi seorang teman, dia sukaaaa banget sama keenan.. dari situ saya mulai penasaran, apa yang terjadi dengan dengan keenan Ya? ponakan saya dapetin novel ini di pameran buku di Istora Senayan awal 2011. Daaaan….. saat membaca novel ini dengan nebeng baca), membuat saya ngga bisa berhenti Mbak….. Alih alih saya terkesan dengan tokoh keenan, saya lebih terkesan dengan tokoh Kugy, sampai belain mati matian berharap happy ending untuk Kugy… hehe… dia sosok yang ceria, apa adanya dan satu sisi yang saya sangaaat suka adalah bahwa Kugy ini mandiri, pandai sekali membuat dongeng, .. Saya melihat gambaran yang saya inginkan ada di Kugy, yaitu pandai membuat dongeng, begitu Mbak… . Saat Keenan beralih ke Luhde, duuh… saya ikut patah hati waktu itu, sediih.. sekaligus kagum karena Kugy begitu dewasa dalam memperlakukan perasaannya sendiri, dan tetap berkarya di saat dia mengalami apa yang mungkin dinamakan patah hati.

Saya ingin melakukan reframing, kaya dengan pengalaman setelah menuangkannya ke atas sehelai kertas, dengan menuliskannya, berbagai hal yang kita lalui akan tercerap lebih cepat. Hal di mana kita terus bergerak. Mudah mudahan akan semakin memperkaya falsafah kita ya mbak.

Saya setuju dengan Mbak Dee bahwa profesi penulis itu menyenangkan, bekerja di manapun dan kapanpun, begitu juga efek perasaan yang menghangat plong begitu selesai menyelesaikan sebuah tulisan meski belum terkena apa yang disebut dengan “edit”. Sepakat ngga Mbak? :)

Demikian surat saya, terima kasih mbak… semoga Mbak Dee sehat selalu, dan senantiasa berada dalam kebaikan. Amiin…

Dari : Badriyatus Solihah

Untuk : Mizan.com

Selasa, 12 Juli 2011

DENGAN SEMANGAT DAN CINTA

Bismillahirrohmanirrohim


Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah perjalanan pulang aku dipertemukan dengan seseorang yang masih merupakan keluarga guru TK ku di masa kecil. Yang menjadi sebuah surprise adalah, kita belum pernah saling kenal sebelumnya meski berasal dari desa yang sama dan aku sudah terpisah dengan guru ku itu puluhan tahun dan beliau sekarang tinggal di kendari dengan anak dan menantunya. Ada rasa haru, bahagia, rindu, ya… merindukan masa masa di mana kita, aku dan teman temanku di masa itu beramai ramai mengikuti langkah beliau di pagi hari untuk berangkat sekolah, dan yang menjadi moment yang tak terlupakan hingga kini adalah, seringkali aku pada saat itu kehilangan uang saku yang diberikan oleh ibuku setiap pagi dan dibungkus dengan kertas, bu Jum akan menggantinya. Setiap kali aku kehilangan setiap kali pula bu Jum akan menggantinya seraya berkata “Hilang ya mbak? Udah pakai ini saja” sembari tersenyum. Terima kasih Rabb, sudah mempertemukan kami dalam sebuah kesempatan. Semoga beliau selalu dikaruniai kesehatan dan kebahagiaan terbaik dari Mu ya Rabb. Terima kasih untuk Bu jum, guru guru yang lain para sahabat yang pernah bersama atas segala canda tawa yang mengiringi, semoga kita semua senantiasa dikaruniai semangat dan cinta di manapun berada, dengan semangat akan mengindahkan cinta, dengan cinta akan mengindahkan semangat J, Terima kasih.